Wednesday, 13 December 2017

T. U. N

Jenuh tubuh itu bermandi peluh,
Berkalung susah menabur kerah,
Lalu,lahir maju di pelusuk daerah,
Lalu,lahir bangsa mendabik dedak.

Rusuh diri terdesak mencapai impi,
Riuh cara,bermacam isi untuk diingati,
Lalu,lahir bangunan megah dipinggiri,
Lalu,lahir penerus "baba dan mama" untuk legasi.

Kini, tubuh itu usang ibarat kapur lama,
Kian malap, kian tidak berasah tajam,
Lalu,menyuara resah, bodoh itu menjadi sukatannya,
Lalu,menjernihkan ketokohannya menjadi agenda busuk dimata penerusnya yang mentah-mentah saja.

Kini,kehilangannya ibarat nasi sebutir dicelah gigi,
Tidak peduli jasa berkering, tabur indah untuk negara yang dicintai,
Kini, tubuh tua itu menjadi bangkai hidup yang dilupai "nyawanya",
Kini, tubuh itu dianggap pengkhianat oleh pengkhianat kelas PERTAMA.

No comments:

Post a Comment

Pada sebelah petang itu, aku menghampiri senja yang kian menghilangkan bayangnya. Benak fikiran dan dadaku sesak atasi rasa kesejukan di tub...