Jenuh tubuh itu bermandi peluh,
Berkalung susah menabur kerah,
Lalu,lahir maju di pelusuk daerah,
Lalu,lahir bangsa mendabik dedak.
Rusuh diri terdesak mencapai impi,
Riuh cara,bermacam isi untuk diingati,
Lalu,lahir bangunan megah dipinggiri,
Lalu,lahir penerus "baba dan mama" untuk legasi.
Kini, tubuh itu usang ibarat kapur lama,
Kian malap, kian tidak berasah tajam,
Lalu,menyuara resah, bodoh itu menjadi sukatannya,
Lalu,menjernihkan ketokohannya menjadi agenda busuk dimata penerusnya yang mentah-mentah saja.
Kini,kehilangannya ibarat nasi sebutir dicelah gigi,
Tidak peduli jasa berkering, tabur indah untuk negara yang dicintai,
Kini, tubuh tua itu menjadi bangkai hidup yang dilupai "nyawanya",
Kini, tubuh itu dianggap pengkhianat oleh pengkhianat kelas PERTAMA.
Wednesday, 13 December 2017
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Pada sebelah petang itu, aku menghampiri senja yang kian menghilangkan bayangnya. Benak fikiran dan dadaku sesak atasi rasa kesejukan di tub...
-
Dwi-Cinta <3 تتكالا چينتا داتڠ مڽيڠڬه، لنتس ايت بوكن اونتوق دسمبه، تتاڤي تندا هاتي ڤرلو ڬاڬه، برسام چينتا تيدق ملبيهي الله Kamu Dan Ke...
-
Ada apa sebenarnya dengan rasa ini, Kadang dia datang dengan tiba-tiba, Membawa emosi dan kecewa yang melanda, Tanpa jelas, keliru seakan me...
-
Yang aku takutkan adalah bukan pergi dan sempat mengucapkan selamat tinggal namun yang pergi secara tiba-tiba tanpa sempat mengucapkan sela...
No comments:
Post a Comment